Menyusuri jejak nabi Musa di gunung Sinai
Setelah mengunjungi musium Mesir tempat bersemayamnya beberapa mumi firaun dan
melihat harta karun peninggalan raja Tutankhamen yang terkenal karna kematiannya
yang misterius di usia 18 tahun. Walaupun pada masa pemerintahannya dia tidak
melakukan suatu hal yang berarti akan tetapi dengan ditemukannya harta karun
dalam bentuk utuh dan lengkap pada waktu penggalian kuburnya, menjadikan Raja
ini terkenal karena telah memberikan kontribusi yang luar biasa terhadap dunia
arkeologi dalam upaya mengupas sejarah kehidupan para firaun di masa lampau.
Cukup memenuhi wawasan pengetahuan, kami melanjutkan perjalanan menuju gunung
Sinai. Sepanjang jalan hanya gunung kapur dan gurun gurun pasir. Sekarang Tim
Sirnagalih berjumlah 25 orang dengan bergabungnya 2 orang rekan kami; Mas Hary
W. dan Mbak Kiki. Memasuki daerah pegunungan sinai udara sejuk cenderung dingin.
Kami tiba di penginapan yang bentuk nya seperti cotage di puncak. Daerah ini
disebut St.Catherine. yang tepat berada di kaki gunung
sinai. Amat sangat sepi dan tidak terlihat rumah penduduk. Setelah beristirahat
dan santap malam kami berkumpul untuk melakukan meditasi. Kali ini meditasi
dilakukan di alam terbuka di halaman belakang cottage yang kami diami. Meditasi
kami kali ini adalah komunikasi dengan alam, kami memancarkan energi rahman
rahim untuk menjaga keseimbangan serta keselarasan alam semesta. Sekaligus
berdoa mohon dukungan alam untuk kelancaran serta kemudahan ziarah mendaki g.
sinai yang akan kami laksanakan pada dini hari nanti. Guru meminta alam untuk
menunjukkan kepada kami bukti dukungannya dengan “menyuruh” semua bintang
berkumpul diatas kepala kami. Dengan segera alam merespon sabda tersebut; ketika
kami memandang langit, yang tadinya cenderung tidak berbintang walaupun udara
cerah, sekonyong konyong semua bintang berkumpul diatas kepala kami sehingga
langit luar biasa terangnya. Bintang bintang yang berkumpul tersebut membentuk
gugusan gugusan segitiga kecil dan besar. Sungguh saya tidak
dapat berkata kata, takjub menyaksikan bukti kebesaran ini. Setelah
beristirahat sebentar, kami bersiap menuju kaki gunung Sinai untuk memulai
perjalanan. Kami mengendarai unta untuk menempuh setengah perjalanan sebelum
mencapai puncak. Naik unta adalah pengalaman paling mendebarkan dalam hidup
saya, belum lagi karena medan yang dilalui adalah jalan sempit yang dikiri
kanannya adalah jurang dengan batu batu karang dan cadas yang tajam. Malam itu
begitu menggetarkan, begitu mencemaskan, begitu menakutkan tapi juga begitu
menyenangkan. Cahaya bulan sabit bagai sinar bulan purnama, begitu terang
menyinari jalan jalan yang terlalui, dikitari dengan ribuan bintang berjajar
rapi menaungi kepala menemani serta mengiringi perjalanan kami mendaki. Alam
sepertinya meridhoi, memudahkan perjalanan kami. Setelah kurang lebih 2 jam kami
mengendarai unta, kami harus meneruskan perjalanan dengan berjalan kaki. Dari
pemberhentian ini menuju puncak ada 780 step undakan dari batu batu lebar yang
tidak
rata, harus kami daki. Kekuatan, ketahanan fisik serta tekad kami benar benar
diuji. Didorong dengan rasa penasaran sekaligus semangat serta keinginan kuat
merasakan kembali perjuangan nabi Musa dalam pencariannya untuk dapat bertemu
Tuhan lah yang membuat saya bertahan dan terus berjalan mendaki walaupun pada
setengah perjalanan, lutut saya telah dua kali mencium batu cadas yang
meninggalkan rasa perih yang luar biasa di dalam tulang tempurung kaki kiri
saya. Beruntung saya mendaki beriringan dengan mbak Rina, sehingga ketika saya
jatuh mbak Rina dengan sabar mau berhenti sebentar untuk membantu meng-healing
sekaligus istirahat sebentar sambil mengatur napas. Pada waktu melakukan
perjalanan dini hari ini, sama sekali tidak terbayangkan bahwa saya tengah
mendaki jalan setapak yang di kiri kanannya jurang, dan tidak menyangka saya
dapat sampai ke puncak dalam keadaan fisik yang masih fit. Tidak kehabisan napas
(walaupun bisa dibilang dalam 10 tahun terakhir ini saya tidak pernah
malakukan latihan olah raga), tetap berjalan dengan langkah stabil walaupun
lutut saya cidera. Amazing…semua ini tidak akan terwujud tanpa restu alam dan
ridho dari Guru. mungkin apabila perjalanan ini dilakukan pada siang hari ,
kemungkinan besar saya akan menolak untuk mendaki disebabkan masukan masukan
dari panca indra kita yang dapat melemahkan semangat serta tekad. Maha suci Sang
Pencipta, semua adalah rahasia-NYA. Memang seharusnya kita sebagai makhluk
ciptaannya dalam menjalani hidup pasrah mengalir menyatu dengan alam , dengan
kehendak Sang Khalik. Dari 25 orang, hanya kami 22 orang yang mencapai puncak.
Pada puncak gunung Sinai ini terdapat kapel kecil (The Holly Trinity) dan sebuah
mushola yang sangat sederhana dan sempit, berada tepat bersebrangan dengan kapel
tersebut. Mushola ini terbuat dari batu dan mempunyai penerangan sangat redup.
Kami semua masuk ke dalam mushola dan membagi diri menjadi 3 saf (yang ternyata
amat sangat pas memuat kami), Kami melakukan sholat
sunnah dengan diimami oleh Guru. Suasana sakral sangat pekat melingkupi kami
semua. Ketika Guru mulai mengangkat tangan dan mengucap Allahu Akbar disusul
dengan Al Fatihah, sungguh suara itu luar biasa agungnya, bahkan Imam besar
Msjidil Haram pun bagi saya tidak dapat menandinginya. Tergetar seluruh badan
saya, mengalir deras air mata syukur, bahagia dan sejuta rasa yang tidak dapat
diungkapkan dengan kata kata. Rasa itu menyerap, menyebar, membasahi permukaan
hati, menembus dinding dinding penjaga samudra kalbu, menggetarkan tembok jiwa
dan mengguncangkan lautan diri. Tuhan ku biarkan aku menyatu dengan kehendak-Mu.
Aku hanyalah sebuah bola yang menggelinding di dalam skenario-Mu, aku hanyalah
awan yang bergerak karena angin-Mu, aku hanyalah air yang mengalir mengikuti
lekuk sungai-Mu….
Disinilah 4 unsur turun. Disinilah energi ha turun. Sehingga lengkap sudah 4
unsur alam semesta; merah, kuning, hitam, putih = api, angin, air, tanah = alif
lam lam ha. Setelah sholat, disambung dengan meditasi, Guru memasukkan serta
mengunci ke empat unsur tersebut ke dalam tubuh kami sekaligus menanamkan energi
kami disana. Ditutup dengan zikir. Lengkap alif lam lam ha dipraktekkan
sekaligus dalam sholat. Berdiri melambangkan alif, unsur api yang terus menerus
keatas, lurus dengan karakter teguh, ajeg, kokoh tidak tergoyahkan keimanan oleh
apapun. Membungkuk lambang dari lam pertama yaitu angin yang senantiasa
menyebarkan ilmu pengetahuan, kebijaksanaan. Lam kedua (yang turun di tibet)
bersujud, mengalir seperti air, mengalir mengikuti alur kehidupan. Terakhir ha
yang turun di sinai yaitu duduk sebagai simbol tanah yaitu kesabaran dan tabah.
Karena pada waktu melakukan gerakan sholat kami sekaligus menyebarkan energi,
maka kami menyebut prosesi yang kami lakukan di puncak sinai
dengan sholat 4 unsur. Peristiwa ini betul betul suatu kehendak Alam. Tidak
direncanakan sama sekali. 4 unsur turun karena jumlah kami ada 22 orang (2+2 =
4).
Bagi kami, gunung sinai adalah saksi bisu dari jejak sejarah yang kami
tinggalkan disana. Kalau memang benar nabi Musa telah bertemu Tuhan di sini,
maka kami merasakan menyatu dengan-Nya. Ketika kami keluar dari mushola tersebut
banyak umat nasrani yang sedang beribadah di luar kapel. Sang surya lamat lamat
mulai merekahkan senyumnya, mengawali hari yang baru. Kami kembali melanjutkan
perjalanan menuruni gunung, sambil berfoto foto mengabadikan lokasi bersejarah
ini. Mulailah rekan rekan memotret saya, Budi dan Uqi beraksi mengambil angle
angle yang menarik. Perjalanan turun sama serunya dengan naik. Kami mencoba
memotong jalan mencari jalur yang lebih cepat. Karena keadaan sudah terang
benderang sehingga lebih memudahkan untuk menguasai medan, saya turun sambil
setengah berlari, mencoba menyusul Guru yang lumayan ada di depan saya. Ketika
sudah bisa menjajari, saking semangatnya ngimbangin langkahnya Guru, saya
tergelincir dan jatuh untung ditahan oleh Guru, kalo tidak mungkin saya
sudah menggelinding turun ke bawah….hehehe, walaupun nyeri tapi dengan tegar,
sambil nyengir nahan sakit, saya bilang gak apa apa, waktu ditanya sama Guru.
(abis malu ntar dikira cengeng). Gak berapa lama, ternyata waktu saya asik
sendiri memperhatikan langkah saya, Guru belok ngambil jalan pintas….ya udah lah
gak sanggup nyusulnya. Akhirnya barengan ama Budi dan Koko. Serunya sambil
ngobrol tapi kita berlomba lomba mo nyampe duluan. Pada setengah perjalanan, sol
sepatu saya yang sebelah kiri terlepas, n ditemuin ama mas Harry M. yang dengan
baik hati mo nyambungin dengan tali atau karet, tapi karena tanggung ya
sudahlah, lagian juga saya gak mau tertinggal jauh untuk mencapai garis ‘finish’
di bawah. jadi cuman ada kain tipis yang membatasi telapak kaki saya dengan
jalanan pasir yang berbatu ini. Wah… senangnya ketika sampai di bawah, saya,
disusul Budi dan Koko berada di urutan ke lima setelah Guru, mas Ismet, mas Aji,
mas Harry M. Buat saya pengalaman di Sinai ini sangat luar
biasa, sarat dengan simbol simbol yang menambah wawasan kecerdasan emosi dan
spiritual saya. Semua yang kelihatan nya tidak mungkin, apabila kita berenang di
dalam samudra kesabaran, teguh dan bertekad bulat, diiringi pasrah diatas
kerasnya usaha, pasti akan terwujud. Kesuksesan Mbak Nenny mendaki sampai ke
puncak dan turun kembali dengan selamat dalam keadaan sehat dan tidak kurang
suatu apapun, ditemani oleh mas Tono adalah suatu mukzizat dan hal yang luar
biasa mengingat kondisi fisik tulang mbak Nenny sangat tidak memungkinkan dan
merupakan suatu larangan keras dari dokter untuk melakukan pendakian. Diatas itu
semua, kenyataan bahwa disini saya telah ikut andil menggoreskan sejarah,
membuat Sinai mempunyai arti tersendiri buat saya. Setelah santap pagi, mandi
kami langsung berkemas menuju ke Dead Sea. Selama perjalanan bis sunyi senyap,
semua tertidur kelelahan.